Ada kesalahan di dalam gadget ini

Encuesta

free counters

Pengikut

Translate Your Language

FREE SMS..!

STOP!..Diskriminasi ODHA

 
STOP!!!... melancarkan stigma dan diskriminasi untuk para penyandang HIV/AIDS. Mereka, seperti kita juga, layak untuk hidup nyaman dan aman. Kehangatan dan dekapan keluarga merupakan faktor penentu keberlangsungan perawatan pasien. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sepertinya harus menanggung beban ganda. Selain menderita kesakitan karena penyakit yang dideritanya, mereka juga masih terus mengalami stigma dan diskriminasi dari lingkungan, bahkan dari orang-orang terdekatnya. Hal itu mengingat HIV/- AIDS sering diasosiasikan dengan seks bebas, pengguna narkoba, dan kematian.Diskriminasi mulai terjadi ketika pandangan negatif mendorong orang atau sebuah lembaga untuk memperlakukan ODHA secara tidak adil berdasarkan pada prasangka terhadap status HIV seseorang. Stigma ini masih terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya orang awam, tenaga medis yang semestinya membantu pasien malah memperlakukan hal yang sama.Padahal, jika ODHA menderita stres hingga depresi berkepanjangan, derajat penyakitnya akan bertambah parah.

 “Kadar CD4 yang mengindikasikan ketahanan tubuh penderita akan merosot drastis jika ODHA mengalami stres berat,” kata Ketua Kelompok Kerja (Pokja) HIV RSUD Tarakan dr Ekarini Aryasatiani SpOG (K) saat temu media dalam rangka Hari AIDS Sedunia (HAS) 2011 di Jakarta.
 Ada anggapan bahwa virus bisa menular lewat tusuk gigi bekas yang sengaja diletakkan ODHA di rumah makan. Ekarini mengatakan, pernyataan itu tidak benar sama sekali.“Itu bohong. Jangan seolah-olah penderita HIV digambarkan berperilaku usil dan jahat. Lagi pula prinsip penularan HIV itu tidak segampang itu. Virus HIV musti bertahan hidup di udara luar dan masuk melalui aliran darah,” ujar Ekarini.Ekarani menuturkan, ODHA juga sebenarnya tidak perlu masuk panti rehabilitasi. Mereka hanya butuh kehangatan dan dorongan semangat dari seluruh anggota keluarganya di rumah, sambil terus menjalankan terapi penyembuhan.
“Tempat kerja sebagai tempat berkumpulnya orangorang muda yang produktif merupakan tempat yang sangat strategis untuk melaksanakan program pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS sehingga membuka peluang untuk meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan HIV/AIDS. Misalnya melalui program komunikasi informasi dan edukasi,” .